Ya Allah,
jadikanlah aku orang yang
kaya hatinya akan akhlakul kharimah,
kaya pikirannya oleh pengetahuan yang bermanfaat
kaya hartanya untuk beramal
Tampilkan postingan dengan label analisis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label analisis. Tampilkan semua postingan

Analisis Cemaran Logam

Selasa, 04 Januari 2011

Dasar:
Senyawa logam dapat ditetapkan dengan spektrofotometer serapan atom. Logam dalam bentuk larutan diatomisasi. Atom yang terbentuk disinari dengan cahaya emisi pada panjang gelombang yang sesuai sehingga akan didapatkan efek absorbsi cahaya. Dengan membandingkan absorbansi sampel dengan absorbansi standar, maka akan didapatkan kadar logam tersebut.
Reaksi:

Alat dan Bahan:
a. AAS
b. Labu ukur 100 ml
c. Piala Gelas 400 ml
d. Labu Semprot Plastik
e. Tissue
Cara Kerja:
a.  Dinyalakan gas beserta kompressor AAS
b. Dinyalakan AAS
c.  Diukur standar dan sampel
d. Dihitung data yang didapatkan
   Perhitungan:
ppm sampel=     A sampel-intersept x Fp
                                      slope

Viskositas cara ostwald

Dasar:
Viskositas cairan merupakan indeks hambatan alir dari suatu cairan, gaya gesek cairan mempunyai gaya gesek yang lebih besar untuk mengalir daripada gas, sehingga cairan memiliki koefisien viskositas yang lebih besar daripada gas. Tiap cairan memiliki kemampuan mengalir berbeda-beda sesuai dengan indeks hambatannya.
Alat dan Bahan:
a. Contoh
b. Air suling
c. Alat viskometer oswald
d. Pipet volum 10 ml
e. Stopwatch
f. Piala gelas 400ml
Cara kerja:
a. Alat viskometer osweald dibersihkan
b. Pipet 5 ml/10ml sampel kemudian diasukkan ke dalam alat viskometer.
c. Tetapkan waktu alir sampel dan standar dengan cara sebagai berikut:
Ø Sampel/standar dihisap sampai melebihi tanda garis atas.
Ø Lepaskan alat hisap
Ø Jalankan stopwatch ketika cairan sampel berimpit dengan tanda garis atas alat viskometer
Ø Matikan stopwatch ketika cairan sampel berimpit dengan tanda garis bawah alat viskometer.
d. Catat waktu alir yang diperlukan oleh standar (air suling) dan sampel
e. Catat suhu ruangan pengukuran .
f.Pengukuran waktu alir standar dari sampel ulang 3 kali.
Perhitungan:
η contoh = d contoh xt contoh xη air
                    d standar x t standar 

UDH (Uji Daya Hambat)

Dasar:
Bakteri dapat tumbuh subur pada media yang banyak mengandung nutrisi yang sesuai bagi perkembangannya. Namun, pertumbuhannya dapat terhambat oleh adanya zat antiseptik atau desinfektan, sehingga jika dibiakkan pada cawan petri akan timbul zona steril pada aderah yang dipengaruhi kerja antiseptik tersebut.
Alat dan Bahan:
a.       Cawan Petri
b.      Inkubator
c.       Neraca
d.      Erlenmeyer
e.       tabung reaksi
f.       Kertas Sring
g.      Pinset
h.      Pembakar Spiritus
i.        Pipet serologi
j.        Air Suling
k.      media PCA
l.        Suspensi Bakteri
m.    LF
n.      Contoh
Cara Kerja:
a.       Dibuat media dengan menimbang  g media PCA pada erlenmeyer, dilarutkan dalam 100 ml air suling, dipanaskan lalu disterilisasi dalam autoklaf.
b.      Dibuat larutan fisiologis (LF) yaitu NaCl 0,85g dalam 100 ml air suling lalu disterilisasi dalam autoklaf.
c.       Dimasukkan 1 ml suspensi bakteri kedalam masing-masing petri
d.      Dimasukkan media 1/3 volume petri, lalu dihomogenkan sampai beku kemudian diberi label.
e.       Kertas saring masing-masing dicelupkan kedalam contoh dan standar lalu diletakkan diatas media.
f.       Diinkubasikan dalam inkubator pada suhu 370 C selama 24 jam.
g.      Diukur diameter zona steril menggunakan jangka sorong dan hasilnya dibandingkan dengan standar.

Analisis kadar Etanol

Dasar:
Contoh yang bersifat volatil dijadikan gas, lalu dialirkan gas sebagai fasa geraknya, contoh yang kepolarannya dekat dengan fasa geraknya akan tertahan lebih lama. Sehingga terjadi pemisahan dengan prinsip like disolve like, hasilnya terbentuk peak (grafik). Pada waktu retensi yang sama, luas peak pada contoh dibandingkan dengan standar sehingga kadar komponen dalam contoh dapat diketahui.
Alat dan Bahan:
a.       Alat GC (gas chromatoghraphy)
b.      Syringe
c.       Tabung gas H2 dan N2
d.      Standar Etanol 100%
e.       Contoh
Cara Kerja:
a.       Dihidupkan gas H2 dan N2 lalu diset suhu GC, yaitu kolom 1000C, injektor 1250C, detektor 1500C.
b.      Dinyalakan komputer pada alat
c.       Dibilas Syringe dengan standar etanol sebanyak 15 kali
d.      Diinjeksikan standar sebanyak 1,5 mL lalu tekan START secara bersamaan.
e.       Ditunggu hingga muncul kromatogram.
f.       Diinjeksikan contoh dan dibandingkan peak yang muncul dengan standar.
g.      Dihitung kadar Etanol dalam contoh.
Perhitungan:
Kadar Etanol = luas peak contoh/luas peak standar  X 100%

Densitas

Dasar :
        Berat jenis adalah bilangan yang menyatakan berapa gram bobot 1 cm3 suatu zat atau beberapa kg bobot 1 dm3 zat. Karena 1 dm3 air pada suhu 40C bobotnya 1 kg. Maka bilangan yang menyatakan berapa 1 dm3 zat itu dengan 1 dm3 air pada 40 C pun disebut bj. Akan tetapi dalam praktek bj yang ditetapkan dengan piknometer dibandingkan bobot zat pada volume tertentu dengan bobot air pada volume yang sama pada suhu kamar, maka bj menurut batasan lama adalah kerapatan/density.
Alat dan Bahan:
a.       Piknometer
b.      Hair Dryer
c.       Neraca Analitik
d.      Termometer
e.       Alkohol Pembilas
f.       Air Suling
g.      Contoh
Cara Kerja :
a.       Piknometer dibilas dengan alkohol pembilas, lalu dikeringkan menggunakan hair dryer sampai kering lalu didinginkan.
b.      Ditimbang bobot piknometer kosong (a).
c.       Disamakan suhu air dan larutan
d.      Dimasukkan air kedalam piknometer sampai penuh dan tidak ada gelembung udara (b).
e.       Dimasukkan contoh kedalam piknometer sampai penuh dan tidak ada gelembung udara (c).
Perhitungan:
Bertat Jenis Contoh = ((c-a)/(b-a)) x d.aqt

Uji Hedonik Metode Organoleptik

     Dasar:
        Tingkat kesukaan konsumen terhadap suatu produk berbeda-beda. Terhadap suatu produk dapat dilakukan dengan cara membandingkan dengan produk yang telah beredar dipasaran, pengujian ini dilakukan oleh panelis tidak terlatih dengan kriteria tertentu. Maka, dapat diketahui produk baru disukai atau tidak oleh konsumen.
Alat dan Bahan:
a.       Contoh
b.      Standar (produk di pasaran)
c.       Formulir
Parameter Uji:
a.       Bau
b.      Tekstur
Perhitungan:
Tingkat kesukaan konsumen = Jumlah skala hedonik/ Jumlah panelis

Penatapan Kadar Fosfat

Minggu, 02 Januari 2011

Penatapan Kadar Fosfat
Prinsip :
Fosfor dapat diperiksa sebagai ion fosfat. Ion fosfat ini dikomplekskan dengan Ammonium vanadat 0,25% dan Ammonium molibdat 0,5% lebih dulu sehingga menghasilkan warna kuning. Warna ini dapat diperiksa intensitasnya secara spektrofotometri pada panjang gelombang 460 nm.
Reaksi :
PO43- +  (NH4)6.Mo7O24.24H2O +  NH4VO3             (NH4)3PO4.NH4VO3.16MoO3
Cara kerja :
a.      Dipipet 5 ml larutan induk ke dalam labu ukur 25ml.
b.     Ditambahkan 1,5 ml HNO3.
c.      Ditambahkan 2,5 ml amonium vanadat 0,25 %.
d.     Ditambahkan 2,5 ml amonium molibdat 0,5 %.
e.      Diencerkan, diimpitkan, dan dihomogenkan.
f.      Diperiksa dengan spektrofotometer pada l 460 nm.
Perhitungan:
Kadar

Keterangan:     ppm adalah konsentrasi larutan
                        fp adalah faktor pengenceran
                        V adalah volume labu induk dalam ml
                        W adalah bobot contoh dalam gram
                        fk adalah faktor kimia (P2O5 / 2PO43-)

Penetapan Kadar S total

Penetapan Kadar S total
Prinsip:
S total dalam contoh ditetapkan dengan menghitung bobot abu dalam bentuk BaSO4 yang didapat dengan mereaksikan contoh dengan HCl dan diendapkan dengan BaCl2. Kadar S total dihitung dengan menggunakan faktor kimia.
Reaksi:
 + BaCl2  +  2H+                  BaSO4     +  2HCl
Cara Kerja:
a.       Ditimbang ± 5 gram kalium klorat ke dalam piala gelas 250ml.
b.      Ditimbang dengan teliti 0,5000 gram contoh, dimasukkan kedalam piala gelas yang sudah berisi kalium klorat, dibilas dengan aquadest.
c.       Ditambahkan 50ml HNO3 1:1.
d.      Ditambahkan 3 tetes HF, kemudian dikisatkan.
e.       Ditambahkan 10ml HCl, dipanaskan hingga larut, diencerkan dengan aquadest.
f.       Ditambahkan NH4OH berlebih.
g.      Disaring dengan menggunakan kertas saring berabu, endapan dicuci dengan air panas.
h.      Ditambahkan metil merah ke dalam filtrat (filtrat berwarna kuning).
i.        Ditambahkan HCl hingga asam (filtrat berwarna merah), dipanaskan kembali, lalu diendapkan dengan 10 ml BaCl2 10% dan dibiarkan semalam.
j.        Endapan disaring dengan menggunakan kertas saring tak berabu no. 42. Endapan dimasukkan ke dalam cawan porselen yang telah diketahui bobotnya (A gram).
k.      Dikeringkan, diperarang di atas nyala meker, dipijarkan dalam tanur pada suhu 900 oC hingga semua abu jadi putih.
l.        Didinginkan dan ditimbang hingga diperoleh B gram.
Perhitungan:

Keterangan : W adalah bobot contoh
A adalah bobot cawan kosong
B adalah bobot pengabuan (cawan porselen + abu contoh)
Mr S = 32
Mr BaSO4 = 233,40

Penetapan Kadar LOI (Loss Of Ignition)

 Penetapan Kadar LOI (Loss Of Ignition)
Prinsip:
Pada umumnya batuan atau tanah mengandung air lembab, senyawa organik. Senyawa organik akan mengurai atau hilang bila dipijarkan. Selisih bobot sebelum dan sesudah pemijaran, dihitung sebagai kadar zat hilang bakar  (LOI).
Reaksi :
C + O2                                          CO2
Senyawa karbonat                       CO2

            Cara kerja:
a.       Dipanaskan cawan porselen di dalam tanur pada suhu 900 oC selama 15 menit.
b.      Didinginkan dan ditimbang cawan porselen yang telah dipijarkan (A gram).
c.       Ditimbang ± 1 gram contoh (yang telah dimasukkan ke dalam oven dan didinginkan) ke dalam cawan porselen, dan dicatat bobotnya  (B gram).
d.      Dimasukkan ke dalam tanur, dan dipijarkan pada suhu 900 oC selama ± 2 jam.
e.       Didinginkan di dalam eksikator dan ditimbang (C gram).
   Perhitungan :

Kadar


Keterangan : A adalah bobot cawan porselen kosong
B adalah bobot cawan porselen + contoh
C adalah bobot setelah pemijaran
 

telah dijuluki :
wanita perkasa
si beu bae
wanita cantik perkasa gagah jelita
wanita aneh dan unik
jiwa anak kecil yang terperangkap dalam tubuh yang besar
gadis gemet